APPEARANCE OVER SUBSTANCE Ketika Penampilan Lebih Penting daripada Isi  

Artikel13 Dilihat

SEKILASBANDUNGRAYA | Cari muka. Dua kata sederhana. Tetapi bisa menjadi cermin yang panjang.

Kalimat itu muncul dalam guyonan KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, saat peringatan 100 tahun Gontor. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

Beliau berbicara tentang orang yang mencari ijazah, mencari nama, mencari uang, mencari jabatan, lalu mencari muka.

Orang tertawa.

Saya justru terdiam.

Bukan karena kalimatnya berat.

Justru karena terlalu dekat dengan kehidupan kita.

Kadang kita tertawa ketika merasa sedang melihat orang lain.

Padahal yang sedang bercermin mungkin kita sendiri.

Kita hidup di zaman yang aneh.

Dulu orang bekerja keras supaya suatu hari dikenal.

Sekarang ada orang yang ingin dikenal supaya terlihat bekerja keras.

Dulu prestasi melahirkan reputasi.

Sekarang reputasi kadang didahulukan, prestasi menyusul.

Dulu orang punya kehidupan.

Sekarang kehidupan pun bisa menjadi konten.

Di sini muncul satu ungkapan yang terasa semakin relevan:

Appearance over substance.

Penampilan lebih penting daripada isi.

Yang terlihat lebih penting daripada yang sebenarnya terjadi.

Coba lihat sekitar kita.

Rapat belum tentu selesai, tetapi foto rapat sudah beredar.

Program belum tentu berhasil, tetapi dokumentasinya sudah lengkap.

Kegiatan baru dimulai, spanduk keberhasilannya sudah terpampang.

Bertemu tokoh, foto.

Menerima penghargaan, foto.

Memberi bantuan, foto.

Bahkan berbuat baik pun kadang tidak lengkap kalau tidak ada kameranya.

Tidak ada yang salah dengan dokumentasi.

Masalahnya muncul ketika dokumentasi mulai menggantikan substansi.

Ketika orang lebih sibuk memastikan kegiatan terlihat berhasil daripada memastikan kegiatan itu benar-benar berhasil.

Ketika yang penting bukan lagi:

“Apa yang kita kerjakan?”

melainkan:

“Bagaimana orang melihat kita?”

Itulah saat penampilan mulai mengalahkan isi.

Dulu kita mencari muka kepada atasan.

Baca Juga  Kenali Lebih Dekat Sosok Ki Gembong, Simak Kisah Selengkapnya!!!

Sekarang lebih luas.

Kita mencari muka kepada publik.

Kepada followers.

Kepada pasar.

Bahkan kepada algoritma

Algoritma tidak punya perasaan.

Tidak punya hubungan keluarga.

Tidak mengenal loyalitas.

Tetapi kita rela menyesuaikan diri agar disukai algoritma

Mengapa?

Karena perhatian telah menjadi mata uang baru.

Yang terlihat dianggap penting.

Yang ramai dianggap benar.

Yang viral dianggap berhasil.

Padahal kita tahu:

viral tidak selalu berarti bernilai.

Dan yang tidak viral tidak otomatis tidak berarti.

Ada sesuatu yang lebih dalam di balik fenomena ini.

Kita mulai kehilangan batas antara menjadi baik dan terlihat baik.

Padahal keduanya berbeda.

Seorang ayah yang setiap malam menemani anaknya belajar mungkin tidak pernah mengunggahnya.

Seorang guru yang puluhan tahun mengajar mungkin tidak pernah viral.

Seorang pegawai yang bekerja jujur ketika tidak ada atasan mungkin tidak mendapat penghargaan

Seorang pemimpin yang menyelesaikan masalah tanpa membuat konferensi pers mungkin tidak masuk berita.

Tetapi pekerjaan mereka tetap selesai.

Kebaikan tetap terjadi.

Manfaat tetap dirasakan.

Karena karakter tidak selalu membutuhkan penonton.

Bahkan sering kali karakter justru tumbuh ketika tidak ada penonton.

Maka saya tidak terlalu tertarik bertanya:

Siapa yang sedang cari muka?

Pertanyaan itu terlalu mudah.

Lebih menarik bertanya:

Apa yang sedang kita cari?

Kita mencari ilmu?

Atau hanya mencari ijazah?

Kita membangun reputasi?

Atau hanya mencari nama?

Kita bekerja untuk kehidupan?

Atau hidup hanya untuk mengejar uang?

Kita menerima jabatan sebagai amanah?

Atau sebenarnya mengejar kekuasaan?

Kita berbuat baik?

Atau hanya ingin terlihat baik?

Pertanyaan terakhir mungkin yang paling sulit.

Sebab manusia sangat pandai membaca wajah orang lain.

Baca Juga  Bansos dan Persoalan DESIL/DTSEN: Jangan Sampai Rakyat Miskin Kehilangan Haknya

Tapi sering kesulitan membaca wajahnya sendiri.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa tampil itu salah.

Tidak.

Pemimpin harus tampil.

Pengusaha perlu membangun reputasi.

Organisasi perlu berkomunikasi.

Profesional perlu membangun personal branding.

Bahkan kebaikan pun boleh dibagikan untuk menginspirasi orang lain.

Yang perlu dijaga adalah proporsinya.

Jangan sampai kita membangun citra lebih cepat daripada membangun karakter.

Jangan sampai kita mengiklankan sesuatu yang belum kita kerjakan.

Jangan sampai foto keberhasilan lebih besar daripada keberhasilannya sendiri

Dan jangan sampai kita lebih sibuk mengelola persepsi daripada mengelola amanah.

Di sinilah saya melihat persoalan appearance over substance menjadi semakin penting.

Citra bisa dibuat dalam hitungan detik.

Karakter tidak.

Satu foto bisa menghasilkan ribuan likes.

Kepercayaan mungkin membutuhkan bertahun-tahun.

Satu pidato bisa membuat seseorang terlihat hebat.

Tetapi waktu akan menguji apakah kata-kata itu pernah menjadi tindakan.

Sebab kamera hanya menangkap satu detik.

Karakter dibentuk oleh ribuan detik yang tidak terlihat.

Karena itu, ada satu pertanyaan sederhana yang sesekali perlu kita tanyakan kepada diri sendiri:

Siapa kita ketika tidak ada yang melihat?

Ketika kamera mati.

Ketika wartawan tidak datang.

Ketika atasan tidak ada.

Ketika tidak ada pejabat.

Ketika tidak ada followers.

Ketika tidak ada tepuk tangan.

Ketika tidak ada yang memberikan penghargaan.

Apa yang tetap kita lakukan?

Jawaban atas pertanyaan itu mungkin jauh lebih jujur daripada seluruh unggahan kita.

Menariknya, ungkapan “cari muka” tadi justru disampaikan di sebuah panggung besar.

Di hadapan Presiden.

Dalam peringatan satu abad Gontor.

Kita tidak perlu buru-buru menganggapnya sebagai sindiran kepada seseorang.

Bisa saja itu memang humor.

Bisa juga mengandung kritik sosial.

Tetapi bagi saya, nilai terpentingnya justru ketika kalimat itu tidak kita arahkan kepada orang lain.

Baca Juga  BANDUNG PERLU PETA WARGA: Dari “Siapa Tinggal di Sini?” Menjadi “Siapa Bisa Berbuat Apa?”

Kita arahkan kepada diri sendiri.

Sebab kritik yang paling sehat bukan kritik yang membuat kita sibuk menunjuk.

Tetapi kritik yang membuat kita pulang dan bercermin.

So, muka akan menua.

Jabatan akan selesai.

Popularitas akan turun.

Foto akan tenggelam di antara jutaan foto berikutnya.

Panggung akan dibongkar.

Kamera akan dimatikan.

Orang-orang akan pulang.

Lalu apa yang tersisa?

Bukan berapa banyak orang yang pernah melihat kita.

Tetapi berapa banyak orang yang pernah kita bantu.

Bukan berapa kali nama kita disebut.

Tetapi berapa banyak kebaikan yang tetap berjalan meskipun nama kita sudah tidak disebut.

Bukan seberapa hebat kita terlihat.

Tetapi seberapa jujur kita ketika tidak ada yang melihat.

Mungkin itulah makna terdalam dari appearance over substance.

Bukan larangan untuk tampil.

Bukan larangan membangun reputasi.

Bukan pula larangan menggunakan media.

Tetapi sebuah pengingat:

jangan sampai penampilan menjadi lebih besar daripada isi.

Jangan sampai citra lebih besar daripada karakter.

Jangan sampai popularitas lebih besar daripada integritas.

Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun muka, sampai lupa membangun wajah.

Karena muka adalah apa yang dilihat orang.

Wajah adalah siapa kita sebenarnya.

Dan , waktu tidak terlalu peduli bagaimana kita terlihat.

Waktu akan bertanya:

Apa yang pernah kita kerjakan?

Siapa yang pernah kita manfaatkan?

Apa yang kita tinggalkan?

Ketika kamera mati, tepuk tangan berhenti, dan semua orang pulang, yang tersisa bukan lagi penampilan.

Yang tersisa adalah isi.

Karakter.

Dan amanah.

 

Oleh: Subchan Daragana S.Sos, MI. Kom Social Architect | Akademisi Universitas Bakrie

Tinggalkan Balasan