Tutup HJKB, Pawai Jampana Berlangsung Meriah dan Penuh Makna

Pemerintahan26 Dilihat

Kota Bandung, Sekilasbandungraya.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menutup rangkaian Hari Jadi ke-216 Kota Bandung (HJKB) dengan menghadirkan Pawai Jampana yang mengangkat kearifan lokal dan kreativitas masyarakat.

Berbeda dari perayaan sebelumnya yang identik dengan mobil hias pada malam hari, tahun ini kemeriahan dikemas melalui tradisi arak-arakan yang melibatkan warga dan berbagai unsur.

Berdasarkan pantauan Humas Bandung, warga sangat antusias untuk melihat Pawai Jampana dalam rangka menutup HJKB ke-216. Warga pun turut memeriahkan karnaval di sepanjang Jalan Diponegoro hingga Jalan Merdeka sebelum masuk ke Balai Kota

Tak hanya itu, warga sangat antusias untuk melihat tampilan yang di suguhkan mulai dari Ega Robot, Kuburan Band hingga Bungsu Bandung di Balai Kota Bandung.

Pawai Jampana dikemas sebagai pesta rakyat yang sederhana. Namun tetap memiliki kemeriahan dan mempunyai nilai budaya yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

Hadirkan Pesta Rakyat Sederhana Penuh Makna

Baca Juga  Fasilitasi Percepatan Investasi, Pemkot Bakal Gelar Bandung Investor Forum 2025

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, pemilihan Jampana merupakan upaya menghadirkan pesta rakyat yang sederhana, tetapi tetap meriah dan berakar pada budaya masyarakat.

Jampana merupakan tandu hias yang dipanggul oleh empat hingga enam orang. Setiap peserta membawa ornamen dengan bentuk dan tema beragam yang merepresentasikan kreativitas masing-masing kelompok.

Salah satu bentuk kreativitas yang ditampilkan yakni miniatur kereta api dari Dinas Perhubungan. Tidak hanya menjadi hiasan, Jampana juga memiliki keunikan karena bagian dalamnya diisi berbagai jenis makanan untuk dibagikan kepada masyarakat saat arak-arakan berlangsung.

“Jampana itu adalah arak-arakan yang dipanggul oleh empat sampai enam orang. Di dalamnya diisi berbagai macam makanan. Nanti sambil lewat, dia berhenti dan orang bisa mengambil makanannya,” kata Farhan.

Menurutnya, konsep tersebut menjadi alternatif dari perayaan sebelumnya yang menggunakan mobil hias pada malam hari dengan konsep City of Light. Kali ini, Pemkot Bandung memilih menghidupkan kembali tradisi lokal sebagai bagian dari penutupan perayaan HJKB.

Baca Juga  Soal Kemasan, Ini yang Wajib Diketahui Pelaku Usaha Makanan Olahan

Farhan menjelaskan, gagasan karnaval ini berangkat dari pengamatannya terhadap berbagai kegiatan yang diselenggarakan kecamatan dalam rangkaian HJKB. Pada 5–6 September, sehari setelah upacara Hari Jadi Kota Bandung, ia melihat antusiasme masyarakat dalam menampilkan potensi dan kreativitas wilayahnya masing-masing.

Pengalaman tersebut mendorong Pemkot Bandung menyusun kegiatan yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi sekaligus melibatkan kelompok pelajar.

Dalam pelaksanaannya, Pemkot Bandung berkolaborasi dengan sejumlah institusi pendidikan, di antaranya Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Taruna Nusantara.

Farhan menyebut, pemilihan waktu pelaksanaan pada pagi hari juga menjadi pertimbangan agar kegiatan tetap berlangsung meriah tanpa menimbulkan kemacetan berkepanjangan.

“Ini yang ingin kita tunjukkan, segala sesuatu harus terinspirasi dari prinsip bottom-up, dari bawah,” ujarnya.

Dari 30 kecamatan di Kota Bandung, Pemkot melakukan kurasi untuk memilih penampilan yang dinilai sesuai untuk ditampilkan dalam karnaval.

Baca Juga  Yana Berharap Hipmi dan Pemkot Bandung Kolaborasi untuk Pulihkan Ekonomi

Farhan mengatakan, kegiatan ini terinspirasi dari budaya dan inisiatif masyarakat, sehingga kreativitas yang tumbuh di tingkat wilayah menjadi bagian dari perayaan kota.

Ia juga menyoroti keberagaman ekspresi budaya masyarakat, termasuk penampilan warga Kecamatan Mandalajati yang mengusung nuansa budaya Tionghoa melalui busana merah dan tetap memadukannya dengan identitas masyarakat setempat.

“Mandalajati itu semuanya bergaya China. Bajunya merah semua, tapi perempuannya semua pakai hijab,” jelasnya

Melalui Karnaval Jampana, Pemkot Bandung ingin menjadikan peringatan HJKB bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga ruang bagi warga untuk menampilkan identitas budaya, memperkuat kebersamaan, serta berpartisipasi dalam membangun kota.

Perayaan ini sekaligus menegaskan bahwa kemeriahan Hari Jadi Kota Bandung dapat diwujudkan melalui tradisi, gotong royong dan kreativitas yang tumbuh dari masyarakat.

Tinggalkan Balasan