Bandung, sekilasbandungraya.com – Forum Grup Discussion (FGD) Evaluasi Upaya Mitigasi Sampah di Sungai Citarum bertempat di The Papandayan Hotel Bandung, Mesin Olah Runtah (MOTAH) Solusi yang sudah terbukti efektif atasi sampah. Selasa 12 November 2024.
Berlaku sebagai Keynote Speeker Sekda Jabar Herman Suryatman, dengan narasumber oleh Kepala BBWS Citarum Mochammad Dian Alma’ruf dan Pjs. Bupati Kab. Bandung Dikky Acmad Sidik yang dihadiri dari Kodam III/Slw, Dishut Jabar, Satgas Citarum Harum, OPD Kota/Kab. Bandung, KBB, Kades, Akademisi, aktivis lingkungan, pelaku usaha mitra.
Maksud dan tujuan FGD
1. Menghadirkan kesepahaman program dan komitmen masing-masing stakeholder serta mengintegrasikan program-program penanganan sampah yang ada untuk mendukung optimlisasi incinerator dalam upaya mitigasi sampah di sungai Citarum.
2. Menjadikan Desa/Kelurahan disepanjang bantaran sungai Citarum sebagai ujung tombak dalam pengelolaan sampah.
Pada kesempatannya saat pemaparan Kepala BBWS Citarum menyebutkan, ada kegiatan pengadaan incinerator melalui Kodam III/Slw, kami mencoba memfasilitasi agar sebanyak 14 incinerator yang diadakan dimana penempatannya di Kab. Bandung, Kota Bandung, Bandung Barat, Bandung Timur.
“Kegiatan hari ini merupakan tindak lanjut dari apa yang sebelumnya sudah dilakukan di Gedung Sate, bahwa saat ini di Bandung Raya hampir mendekati darurat sampah. Tentu kami institusi yang ada kaitannya dengan hal ini ingin ikut berkolaborasi dengan melakukan FGD ini,” ucapnya.
Dijelaskannya kembali, karna seperti kita ketahui jika sampah sudah bisa diselesaikan di darat tentu tidak ada sampah yang turun ke sungai ini yang kita upayakan.
“Disisi lain, MOTAH sangat bermanfaat, hanya saja penempatan perlu ditinjau kembali, jangan sampai ada istilah kekurangan sampah, perpaduan MOTAH dengan TPS3R, Pertimbangan penempatan juga perlu adanya dukungan regulasi acara nyata sehingga penganggaran dan kewenangannya jelas, jangan sampai kebaikan malah tersandung dengan hukum,” tegas Kepala BBWS Citarum.
Dilanjutkannnya, terkait MOTAH, sepertinya harus diperbanyak, karena untuk Citarum Harum kedepan rencana hanya pada pengelolaan oxbow, lembaga lain kami harap ada incinerator lain juga guna mengatasi sampah.
“Mengingat darurat, maka incinerator untuk saat ini pilihan yang lebih baik, kedepan kami akan bersosialisasi dengan kewilayahan agar apa yang dilakukan tidak mubadzir,” ujar Mochammad Dian Alma’ruf.
Sementara Herman Suryatman Sekda Jabar menyampaikan, hal pundamental yang menjadi tujuan kita adalah Citarum Harum dengan Indeks Kualitas Air (IKA) nya minimal 60% di akhir tahun 2025, data menunjukan akhir IKA ada di 50.78% dari pertahun 9,72%.
“Kita ada waktu 1 tahun bagaimana melompatkan dari 50,78% IKA agar bisa 60%. Kalau sudah 60% berarti tidak tercemar, dari tercemar berat sekarang tercemar ringan saat ini, 1 tahun berikutnya mudah-mudahan Desember 2025 bisa menembus 60% IKA nya itu bearti tidak tercemar, itu saya kira mimpi kita,” terang Sekda.
Menurutnya, untuk meningkatkan 1 poin itu susah, 2023 kita sudah naik di 51% kemudian kita turun lagi ke 50%, berarti kita harus punya komitmen harus naik dari 50.78% ke 60% walau pun susah dan itu sesuatu yang tidak mungkin tapi sebagai pemimpin bagaimana yang tidak mungkin menjadi mungkin.
“Bahkan pihaknya juga sempat menyebutkan menyebutkan untuk saat ini dalam mengatasi permasalahan sampah MOTAH salah satu solusi yang sudah terbukti efektif,” tandas Sekda Jabar yang juga menjabat selaku Kepala Sekretariat Satgas Citarum Harum.







