Kungker Asdep Pengelolaan Sampah dan Limbah Kemenko Marves Tinjau MOTAH di Sektor 7 

Berita78986 Dilihat

Kab Bandung, sekilasbandungraya.com – Asisten Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah Kemenko Marves tinjau langsung Alat Pembakaran Sampah (APH) Motah-1 Siliwangi yang berada di wilayah kerja Sektor 7 Citarum Harum, Desa Cangkuang Wetan, Dayeuhkolot. Jum’at (15/09/23).

Kehadirannya disambut Staf Posko dan Dansub yang mewakili Dansektor 7 Citarum Harum, Akademisi Unpas serta perwakilan dari PT. Sparta Guna Sentosa. Dalam kunjungannya Asdep Kemenko Marves Rendra KH melihat ke sekeliling Mesin Olah Runtah serta lakukan tanya jawab dengan pengelola, agar mengetahui detail secara fungsional mesin tersebut.

Diketahui juga bahwa Motah merupakan salah satu inovasi solusi yang di kembangkan oleh Kodam III/Siliwangi berkolaborasi dengan pelaku usaha serta unsur kewilayahan guna meminimalisir permasalahan sampah yang ada di wilayah masing-masing.

Pada kesempatannya saat di wawancarai Asdep Pengelolaan Sampah dan Limbah Kemenko Marves Rendra KH menyampaikan, pada hari ini kita adakan pertemuan untuk menyelesaikan masalah persampahan. Memang sudah berbagai effort kita lakukan memang pada prinsipnya ada tanggung jawab Pemerintah Daerah dalam menyediakan jasa pelayanan sampah, itu yang pertama.

Baca Juga  Anggota Saka Wira Kodim 0611/Garut Aktif Terlibat TMMD ke-128

“Tapi praktik semenjak kita punya UU No. 18 th 2008 ternyata kita sangat berpatokan ke TPA, jadi terbiasa namanya kumpul, angkut lalu buang. Sehingga TPA nya numpuk, berpotensi Aware Capacity apalagi sekarang ditambah dengan masalah kondisi TPA pada saat ini,” ujarnya.

Sehingga kita harus berpikir lebih inovatif lagi, sambung Rendra, harus bisa menyediakan sampah sedekat mungkin dengan sumbernya. Dihari ini memang kita melihat teknologi Motah, ini yang prinsipnya saya mendapatkan informasi itu bisa mengolah sampah secara termal untuk kapasitas 1 Ton untuk setiap jamnya.

“Nah ini memang salah satu terobosan yang harus kita coba pastikan aman bagi lingkungan dan bisa kita replikasi ditempat-tempat lain. Sehingga nantinya itu tekanan atau timbunan sampah yang dilempar ke TPA bisa kita mitigasi jadi bisa selesai langsung dekat dengan sumbernya,” jelasnya.

Sementara untuk hasil penilaian Renda menyebutkan, dilihat dari teknologinya dulu, secara kasat mata memang teknologinya tidak menggunakan sumber energi misal listrik, batubara atau bahkan dari diesel atau genset atau apapun, nah tadi saya juga bisa melihat panasnya bisa ditangkap bisa diuntungkan dengan bahan material tertentu hingga bisa dioptimalkan untuk membakar lagi secara termal.

Baca Juga  Pemkot Bandung Bakal Tertibkan Pedagang Cuanki Jalan Diponegoro

“Jadi ini sebenarnya dari satu sisi bagus, karna kita berbicara tentang Operational Cost itu yang bisa di tekan. Yang ke 2, dari sisi masalah emisi gas buang secara kasat mata memang tipis, tipis itu bukan berarti tidak ada tapi gas buangnya sedikit nah ini akan kita uji lewat lab nanti apakah aman sesuai dengan ketentuan baku mutu emisi”, papar Rendra.

Sedangkan untuk standarisasi Motah Renda juga mengatakan, harus lewat lab, kebetulan dari sini sudah beberapa uji lab sudah dilakukan dapat dilihat dari beberapa lab termasuk tadi untuk yang Fly Ash, Bottom Ash nya nanti tinggal kita padukan, sebenarnya yang diminta standar minimumnya menurut pemerintan sesuai dengan peraturan menteri lingkungan hidup itu apa saja tinggal kita padukan saja.

Dr. Asep Dedi Sutrisno, MP yang merupakan Akademisi Unpas Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat LPM menambahkan, dari tim kami tentu akan selalu upaya dan ikhtiar dalam rangka upaya-upaya untuk menangani masalah sampah yang sekarang makin darurat.

Baca Juga  Jabar Etnik Fest, Wujud Kolaborasi untuk Majukan Ekosistem Budaya Nasional

“Kami tidak dengan pendekatan teknologi saja tetapi juga dengan pendekatan-pendekatan sosial lalu pendekatan kemanusiaan dengan masyarakat bekerjasama dengan pemerintahan daerah dalam hal ini adalah Kelurahan atau Desa. Yang jelas bahwa masalah teknologi ini terus kita perbaiki kita sempurnakan tapi sisi lain juga ada yang memang menjadi kesulitan yaitu dimasa masalah sosialnya kebiasaan di masyarakat,” terang Asep.

“Jadi yang akan kami bangun masalah sosialnya, masalah ekonominya dan sebagainya, Hingga pada akhirnya kita betul-betuk menyelesaikan masalah itu tuntas, universal tidak hanya satu sisi saja karna persoalan sampah ini tidak hanya satu titik saja tapi perlu ada kolaborasi dengan berbagai pihak tentunya. Karna itu kami dengan tim kami selalu berusaha menciptakan satu paket sistem penanganan sampah terpadu ataupun terintegrasi”, tandas Asep.