SEKILASBANDUNGRAYA – Sense of belonging, rasa menjadi bagian dari sebuah tempat.
Setiap tahun Bandung bertambah usia. Namun, ada pertanyaan yang patut kita renungkan: siapa yang sesungguhnya merayakannya? Di ruang-ruang resmi, hari jadi kota ditandai dengan seremoni, pidato, penghargaan, dan berbagai agenda pemerintahan. Para pejabat hadir, undangan duduk, kamera bekerja, dan protokol berjalan. Sementara itu, di luar ruang-ruang resmi, warga menjalani hari seperti biasa. Pedagang membuka warung, pekerja berangkat mencari nafkah, orang tua mengantar anak ke sekolah, dan warga kampung mengurus lingkungannya. Mereka juga pemilik kota ini. Lalu, mengapa hari jadi Bandung terkadang terasa lebih dekat sebagai agenda pemerintah daripada perayaan seluruh warga? Barangkali yang perlu kita perkuat bukan sekadar kemeriahan acaranya, melainkan rasa memiliki terhadap kota ini.
Ada kota yang dibangun dengan beton, jalan, gedung, taman, dan berbagai infrastruktur. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting dan sering luput dari pembicaraan tentang pembangunan kota: sense of belonging, rasa menjadi bagian dari sebuah tempat. Bandung telah memasuki usia 216 tahun, sebuah perjalanan panjang yang diwarnai perubahan, pencapaian, dan berbagai persoalan. Hari jadi seharusnya menjadi kesempatan untuk mengingat bukan hanya kapan kota ini berdiri, tetapi juga siapa yang membuatnya tetap hidup. Sebab sebuah kota tidak menjadi besar hanya karena bangunannya, melainkan karena manusia yang tinggal, bekerja, berkarya, dan membangun kehidupan di dalamnya.
Maka, pada usia 216 tahun, Bandung mungkin tidak membutuhkan terlalu banyak slogan baru. Yang lebih penting adalah membangun kesepakatan baru antara pemerintah dan warga tentang kota seperti apa yang ingin diwujudkan bersama. Kota yang bersih bukan hanya karena petugas kebersihan bekerja. Kota yang aman bukan hanya karena aparat berjaga. Kota yang kreatif bukan hanya karena pemerintah menyediakan ruang. Semua membutuhkan warga yang merasa menjadi bagian dari prosesnya.
Demikian pula hari jadi Bandung: pemerintah tetap memiliki peran penting sebagai penyelenggara dan fasilitator, tetapi maknanya akan semakin kuat ketika warga merasa ikut memiliki. Pertanyaannya tidak lagi hanya, “Acara apa yang disiapkan untuk masyarakat?”, tetapi juga, “Ruang apa yang kita buka agar masyarakat dapat merayakan kotanya dengan cara mereka sendiri?”
Pertanyaan di usia ke-216 ini bukan semata-mata, “Apa yang sudah dicapai Bandung?”, melainkan, “Bandung seperti apa yang ingin kita wariskan?” Kita ingin mewariskan kota yang lebih bersih, aman, mudah dijelajahi, ramah kepada anak, memberi ruang kepada anak muda, membuka peluang bagi usaha kecil, dan merawat kebudayaannya.
Namun, lebih dari semuanya, kita ingin mewariskan kota yang manusiawi: kota yang membuat setiap orang merasa dihargai dan memiliki masa depan. Warisan semacam itu tidak cukup dibangun melalui proyek dan program. Ia membutuhkan hubungan yang terus dirawat antara pemerintah, warga, dan ruang tempat mereka hidup.
Bandung telah melewati 216 tahun. Generasi sebelum kita membangun kota ini dengan tantangan pada zamannya masing-masing. Kini giliran kita menentukan apa yang akan ditinggalkan kepada generasi berikutnya. Hari jadi kota seharusnya mengingatkan bahwa Bandung bukan hanya milik mereka yang berdiri di panggung perayaan, melainkan juga milik mereka yang setiap hari menghidupkan gang, pasar, sekolah, tempat kerja, dan lingkungan tempat tinggalnya. Selamat Hari Jadi ke-216, Bandung.
Semoga perayaan ini semakin terasa di hati seluruh warganya. Sebab Bandung bukan hanya tempat kita tinggal. Bandung adalah rumah yang kita bangun bersama. Dan rumah yang baik bukan sekadar indah dilihat, melainkan membuat setiap penghuninya merasa diterima, ingin menjaga, dan bangga mewariskannya.
Itulah makna A City We Belong To: sebuah kota tempat kita bukan hanya tinggal, tetapi sungguh merasa menjadi bagian
Oleh: Subchan Daragana, S.Sos., M.I.Kom.
Urang Bandung – Akademisi Universitas Bakrie
