SEKILASBANDUNGRAYA – Kalau bicara soal UMKM di Bandung, sebenarnya kita tidak perlu jauh-jauh mencari contoh. Keluar rumah saja sudah kelihatan. Ada yang jualan makanan, kopi, pakaian, kerajinan, sampai usaha rumahan yang promosinya hanya lewat WhatsApp dan media sosial. Orang Bandung memang kreatif. Ada peluang sedikit, dicoba. Ada tempat kosong, dipakai jualan. Ada makanan yang dianggap enak, besoknya sudah mulai menerima pesanan.
Masalahnya, makin ke sini saya melihat UMKM kita tumbuh seperti berjalan sendiri-sendiri. Orang berlomba membuka usaha, tetapi setelah usahanya berdiri, banyak yang bingung mau dibawa ke mana. Hari ini ramai, minggu depan sepi. Bulan ini omzet bagus, bulan berikutnya turun. Yang jualan makin banyak, sementara yang membeli belum tentu ikut bertambah.
Di sinilah sebenarnya pemerintah harus hadir. Bukan berarti selama ini pemerintah tidak berbuat apa-apa. Ada pelatihan, bazar, pameran, bantuan promosi dan berbagai kegiatan lainnya. Itu tentu baik. Tetapi yang dibutuhkan pelaku UMKM bukan hanya acara. Mereka butuh alur yang jelas. Setelah dibina, mau dibawa ke mana? Setelah produknya bagus, siapa yang membantu menjual? Setelah masuk bazar tiga hari, lalu hari keempat bagaimana?
Ini yang sering saya dengar ketika ngobrol dengan pedagang kecil. Mereka sebenarnya tidak terlalu membutuhkan teori yang macam-macam. Mereka hanya ingin dagangannya laku. Sesederhana itu. Orang jualan nasi ingin nasinya habis. Yang produksi baju ingin bajunya dibeli. Yang bikin makanan ringan ingin produknya masuk toko. Jadi kalau kita bicara membantu UMKM, ujungnya harus sampai ke sana: ada pembeli dan ada penghasilan.
Bandung sebenarnya punya modal besar. Orang datang ke Bandung mencari makanan, pakaian, oleh-oleh dan tempat nongkrong. Hotel banyak, restoran banyak, kantor banyak, kampus banyak, kegiatan pemerintah juga banyak. Pertanyaannya, sudah sejauh mana semua potensi itu disambungkan dengan UMKM Bandung?
Misalnya begini. Ada UMKM yang membuat makanan bagus dan sudah punya izin. Kenapa tidak dibantu masuk ke hotel atau kegiatan-kegiatan besar di Bandung? Ada yang membuat kerajinan bagus, kenapa tidak dipertemukan dengan pasar wisata? Ada yang membuat pakaian berkualitas, kenapa tidak dibantu bertemu dengan toko atau pasar yang lebih besar? Menurut saya, pemerintah justru harus kuat di bagian ini: menjadi penghubung.
Jangan sampai kita merasa persoalan selesai karena sudah mengadakan bazar. Bazar tetap penting, tetapi bazar hanya beberapa hari. Setelah tenda dibongkar, pedagang kembali ke tempat masing-masing dan persoalan lama datang lagi. Sepi pembeli, bahan baku naik, sewa harus dibayar dan pegawai tetap harus digaji. Pemerintah perlu memikirkan kehidupan UMKM setelah acara selesai.
Begitu juga soal digital. Sekarang hampir semua orang disuruh masuk media sosial, marketplace dan memakai QRIS. Bagus. Tetapi jangan dianggap setelah punya akun Instagram persoalan selesai. Ada pedagang yang punya Instagram tetapi tidak tahu cara menjual. Ada yang produknya bagus tetapi fotonya seadanya. Ada juga yang masuk marketplace tetapi akhirnya berhenti karena tidak mengerti cara bermain di sana. Pendampingan seperti inilah yang menurut saya lebih dibutuhkan.
Saya juga melihat kita terlalu sering memakai istilah “UMKM naik kelas.” Kalimatnya bagus, tetapi bagi pedagang kecil ukuran naik kelas mungkin berbeda. Mereka tidak semuanya ingin punya pabrik atau membuka sepuluh cabang. Ada pedagang yang sudah senang kalau dagangannya setiap hari habis dan bisa membawa pulang uang untuk keluarganya. Ada ibu-ibu yang hanya ingin pesanan kuenya bertambah. Ada tukang jahit yang hanya ingin pelanggan tetap datang. Itu juga kemajuan.
Karena itu, saya berharap pemerintah Kota Bandung mulai melihat UMKM bukan hanya dari jumlahnya. Jangan hanya bangga karena jumlah UMKM bertambah. Coba lihat satu per satu: berapa yang masih hidup, berapa yang mulai kesulitan, berapa yang tutup, dan apa sebenarnya yang mereka butuhkan. Data seperti itu jauh lebih berguna untuk menentukan kebijakan.
Yang juga penting, program jangan berputar pada orang yang itu-itu lagi. Kita sering menemukan pelaku usaha yang rajin ikut kegiatan pemerintah akhirnya mengetahui semua akses. Sementara pedagang kecil di gang, kampung atau pinggiran kota tidak tahu harus datang ke mana. Padahal mungkin justru merekalah yang paling membutuhkan bantuan.
Menurut saya tidak perlu membuat persoalan UMKM terlalu rumit. Pemerintah cukup memastikan beberapa hal berjalan: usahanya dipermudah, produknya dibantu menjadi lebih baik, akses modalnya dibuka, dan yang paling penting pasarnya dicarikan. Kalau empat hal itu benar-benar berjalan, pelaku UMKM pasti merasakan keberadaan pemerintah.
Sebab UMKM bukan sekadar angka dalam laporan. Di balik satu warung ada keluarga yang makan dari sana. Di balik satu usaha jahit ada anak yang biaya sekolahnya berasal dari sana. Di balik satu gerobak makanan mungkin ada tiga atau empat orang yang menggantungkan hidup.
Bandung sudah punya orang-orang kreatif. Semangat usahanya juga tidak perlu diragukan. Yang sekarang dibutuhkan adalah arah. Jangan biarkan masyarakat terus membuka usaha, jatuh, bangun lagi, lalu mencari jalan sendiri.
UMKM Bandung sudah bergerak. Sekarang pemerintah yang harus lebih banyak hadir untuk mengatur jalannya, membuka pintunya dan mempertemukan mereka dengan pasar. Karena bagi pedagang kecil, bantuan terbaik bukan sekadar seminar atau seremoni. Bantuan terbaik adalah ketika barang yang mereka buat benar-benar ada yang membeli.
Oleh: Adv. Arie Azhari, S.H., CPM
