“Kota Bandung akan selalu terbuka untuk siapa pun. Makna dari ‘terbuka’ adalah inklusivitas. Kota Bandung milik semua orang. Bandung bukan kota eksklusif, tapi kota karamah yang memperhatikan kepentingan setiap kelompok,” ujar Farhan.
Ia juga menyebut, pentingnya belajar dari para orang tua dan anak-anak dengan autisme mengenai cara menjaga hati dan membangun empati. Menurutnya, keberagaman adalah kekuatan yang membuat Bandung istimewa.
“Walk for Autism di Cikapayang ini menjadi simbol kemeriahan dalam keberagaman. Ini ciri khas Bandung. Alhamdulillah, kita bisa mengatakan bahwa Bandung adalah kota yang terbuka dan layak huni bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang,” tuturnya.
Lebih lanjut, Farhan menjelaskan, peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sarana untuk terus menggaungkan kesadaran tentang autisme setiap tahunnya.
“World Autism Awareness Day itu artinya membangkitkan awareness tentang keberadaan autisme, perilaku yang menyertainya, hingga penanganannya. Autisme sekarang ada di mana-mana, dan kesadaran ini harus terus dibangun,” ungkapnya.







