Kab Bandung, Sekilasbandungraya.com – Ketua Harian Satuan Tugas PPK Citarum Harum Mayjen (Purn) Dedi Kusnadi Thamim lakukan peninjauan kewilayah kerja Sektor 7 Citarum Harum, terkait penanganan dan penanggulangan sampah. Senin (15/05/23).
Hadir mendampingi tinjauan Komandan Sektor 6, 7, 21, BBWS, LH, Pemerintah Kab Bandung, staff Posko Sektor 7, Anggota dan perwakilan dari perusahaan.
Dalam tinjauannya, Ketua Harian Satgas PPK Citarum Harum langsung memastikan ke area yang pernah viral terkait informasi lautan sampah di anak sungai Citepus Kp Bojong Citepus, Desa Cangkuang, dalam tinjauannya Ketua Harian PPK Citarum menyebutkan sampah memang banyak namun bersifat temporer dan tidak selamanya seperti itu, dan jajaran yang ada di Sektor masing-masing, khususnya Sektor 7 telah melakukan bagaimana penanganan sampah bersama dengan aparat/dinas terkait dari mulai Pemkab, LH, BBWS dan lainnya.
Usai melakukan peninjauan anak sungai Citepus yang lagi viral, Mayjen (Purn) Dedi Kusnadi Thamim dengan di dampingi yang terpantau hadir melanjutkan ke lokasi Mesin Olah Runtah (Motah) di Kp. Cibedeug Desa Cangkuang Wetan, Dayeuhkolot.
Mayjen (Purn) Dedi Kusnadi Thamim sempat berkeliling di area MOTAH-1 dan memastikan sistem kerja mesin tersebut, bahkan sesekali Ketua Harian Satgas PPK Citarum Harum bertanya terkait berapa banyak sampah yang bisa di olah dalam sehari, serta berapa suhu yang di keluarkan oleh mesin tersebut.
Dalam kesempatannya Ketua Harian Satuan Tugas PPK Citarum Harum Mayjen (Purn) Dedi Kusnadi Thamim menyampaikan, Kegiatan hari ini Satgas Citarum yang saya pimpin bersama dengan dari LH, BBWS, Sektor 6, 7 dan 21, melihat bagaimana sampah yang beberapa hari lalu di viralkan.
“Betapa banyak sampah tersebut namun memang sifatnya temporer, tidak selamanya seperti itu karna apa ? Karna semua jajaran yang ada di sektor khususnya di Sektor 7 yang telah melakukan bagaimana penanganan sampah bersama dengan aparat terkait/dinas lainnya, dari Pemda, LH, BBWS dan lainnya,” jelasnya.
Dilanjutkannya, Itu semua telah dilakukan, namun yang jadi perhatian itu memberikan edukasi merubah perilaku masyarakat agar sampahnya habis di tempat. Ini yang belum terlaksana dengan dimaksimalkan, jadi begitu hujan sampah itu akan tertarik masuk kesini dan akhirnya bertemu di satu muara dimana tadi ada muara Citepus masuk ke Citarum disitulah Citepus tertahan hingga kelihatan sampah ini menumpuk.
“Tapi sekarang setelah hujan reda sampah juga sudah hilang begitu. Kaitannya dengan sampah kita akan tindak lanjuti bagaimana memperlakukan sampah kedepan baik dari Pemerintah Daerah dan Kabupaten Bandung, dari satgas Citarum Harum Sektor 6, Sektor 7 yang memang tempat pertemuan sampah dari arah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung,” ujarnya.
Masih kata Ketua Harian Satuan Tugas PPK Citarum Harum, Kemudian saya bergerak ke TPS dimana TPS disini ada namanya mesin pembakar sampah MOTAH, Motah itu singkatan dari Mesin Olah Runtah, ini menurut saya efektif untuk mengolah sampah sehingga kedepan sampah yang ada di sekitar bantaran sungai khususnya sampah basah dengan sampah dari rumah tangga kita coba kedepan melakukan upaya penanganan sampah habis ditempat.
“Ini sudah direncankan dengan tim yang ada akan melakukan survey untuk menguji bagaimana Motah ini bisa efektif dalam penanganan sampah kedepan, bukan hanya didaerah cangkuang saja tapi mungkin ditempat lain kami akan melakukan untuk penanganan sampah melalui mesin pembakar yaitu motah, tapi ini perlu di uji tadi sudah saya lihat bagaimana suhu mesin sampah yang normal itu minimal di 800,” terangnya.
Tapi, lanjutnya, ini dengan di lakukan uji ini sudah diatas 900 bahkan di satu tempat ada yang sampai 1000 – 1150. Ini satu terobosan yang baru untuk penanganan sampah habis ditempat, jadi bila kita hasil uji maksimal ini tidak perlu lagi ke TPA yang ada di sarimukti karna di kita juga ada persoalan-persoalan baru dimana begitu selesai dibakar sampah-sampah yang tertumpuk disana antri malah ada yang kembali lagi, ya itu salah satunya yang ditangani di TPS-TPS dengan kita pengadaan mesin.
“Ini belum begitu final ini akan dilakukan pengujian bagaimana kelayakan dari MOTAH ini”, tandas Mayjen (Purn) Dedi Kusnadi Thamim sambil menutup keterangannya.







