Bandung, SBR – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mendorong penguatan sektor ritel sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah, sekaligus memperluas akses pasar bagi produk lokal dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Selain menyediakan akses terhadap berbagai kebutuhan masyarakat, sektor ritel memiliki peran strategis dalam menghubungkan produsen dengan konsumen, memperkuat rantai distribusi, serta mendukung ketersediaan barang dan stabilitas harga di pasar.
Hal tersebut disampaikan Farhan saat membuka Festival Produk Lokal Bermutu bertema *Ritel Indonesia Maju – Menguatkan Produk Bermutu, Menggerakkan Ekonomi Indonesia*, dalam rangka Hari Ritel Nasional 2026 dan Bulan Mutu Nasional, Jumat, 6 November 2026.
Menurut Farhan, sektor ritel merupakan bagian penting dari ekosistem perekonomian karena menjadi penghubung antara kegiatan produksi dan kebutuhan konsumsi masyarakat.
“Kita tahu tanpa bisnis ritel maka akses konsumen terhadap produk-produk sehari-hari itu enggak bisa didapatkan,” ujar Farhan.
Ia menjelaskan, keberadaan jaringan ritel juga berkontribusi dalam menjaga kelancaran distribusi barang hingga ke tingkat konsumen. Dengan ketersediaan produk yang terjaga dan distribusi yang efisien, sektor ritel dapat menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung pengendalian inflasi daerah.
Farhan menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Kota Bandung pada periode Januari hingga Juni 2026 tercatat sebesar 5,78 persen. Ia juga menyebutkan kontribusi produk-produk yang dipasarkan melalui sektor ritel mencapai 26,1 persen.
“Kita memiliki peluang cukup besar untuk bisa menjadikan ritel sebagai salah satu motor penggerak karena kontribusi produk-produk yang dijual di ritel itu sampai mencapai angka 26,1 persen,” katanya.
Melihat potensi tersebut, Farhan menilai penguatan sektor ritel perlu berjalan beriringan dengan pengembangan produk lokal. Jaringan ritel diharapkan dapat menjadi ruang pemasaran yang lebih luas bagi produk unggulan Kota Bandung, termasuk produk UMKM dan industri kuliner lokal.
Menurutnya, keberlanjutan rantai pasok menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya saing produk. Kepastian ketersediaan bahan baku, kelancaran distribusi, serta keterjangkauan harga perlu menjadi perhatian bersama antara pemerintah dan pelaku usaha.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah tepung tapioka atau aci yang banyak digunakan dalam industri kuliner khas Bandung.
Farhan mencontohkan berbagai produk lokal berbahan dasar aci, seperti cireng, cilok, cimol, basreng, dan bakso tahu. Produk-produk tersebut merupakan bagian dari kekuatan ekonomi kreatif dan kuliner Kota Bandung yang melibatkan banyak pelaku usaha.
Karena itu, ia memandang penting adanya koordinasi lintas sektor untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku, sehingga pelaku usaha dapat menjaga kesinambungan produksi sekaligus mempertahankan harga produk yang terjangkau bagi konsumen.
Farhan juga menekankan pentingnya menjaga mutu dan keamanan produk yang beredar di masyarakat. Menurutnya, kualitas produk merupakan salah satu faktor utama dalam membangun kepercayaan konsumen sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
Selain itu, ia mendorong penguatan kolaborasi dalam fasilitasi sertifikasi halal agar semakin banyak produk lokal yang memenuhi standar dan memiliki akses pasar lebih luas.
“Dengan sertifikasi halal kita membantu konsumen untuk memutuskan dengan mudah,” ujarnya.
Melalui penguatan ekosistem ritel, Pemkot Bandung mendorong terciptanya hubungan yang saling mendukung antara jaringan perdagangan, produsen, dan pelaku UMKM. Upaya ini diharapkan dapat memperluas pemasaran produk lokal, menjaga keberlanjutan usaha, serta memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Bandung.







