Siapa Yang Memjaga Bandung?

Artikel37 Dilihat

SEKILASBANDUNGRAYA – “Membangun Keamanan Kota melalui Community Based Safety ” (sebuah gagasan ) Ada satu hal yang sering kita sadari justru ketika hari mulai gelap: rasa aman ternyata sangat dekat dengan lingkungan.

Gang yang siang hari terasa biasa, malam hari bisa terasa berbeda. Jalan yang ramai pada sore hari tiba-tiba menjadi sepi. Lampu yang mati, sudut jalan yang gelap, ruang publik yang kosong, atau anak muda yang berkumpul tanpa aktivitas membuat orang tua mulai bertanya: aman tidak kalau anak saya pulang malam?

Rasa tidak aman bahkan sering muncul sebelum seseorang menjadi korban. Cukup mendengar kabar dari tetangga, membaca berita kejahatan di media sosial, atau mengetahui pernah terjadi gangguan keamanan di sekitar tempat tinggal, rasa cemas itu sudah tumbuh. Keresahan warga tidak boleh dianggap sekadar perasaan. Data kriminalitas menunjukkan bahwa persoalan keamanan memang nyata.

Namun data seharusnya tidak membuat kita buru-buru memberi label Bandung sebagai kota yang tidak aman. Data harus membantu kita memahami di mana kerawanan terjadi, kapan muncul, mengapa terjadi, dan apa yang dapat dilakukan sebelum kejahatan terjadi.

Di sinilah cara kita memandang keamanan perlu diperluas. Ketika berbicara tentang keamanan, perhatian kita hampir selalu tertuju kepada polisi. Tentu saja, kita membutuhkan polisi yang profesional, tegas, dan responsif. Tetapi polisi tidak mungkin berada di setiap gang, setiap sudut jalan, setiap rumah, dan setiap ruang publik sepanjang waktu.

Lalu siapa yang menjaga Bandung?

Jawabannya tidak cukup hanya polisi. Keamanan kota adalah sebuah ekosistem. Pemerintah membangun sistemnya. Polisi menegakkan hukum. Tetapi keluarga, tetangga, RT/RW, sekolah, komunitas, dunia usaha, dan warga juga memiliki peran menciptakan lingkungan yang membuat kejahatan semakin sulit tumbuh.

Inilah yang dapat kita sebut sebagai community-based safety, keamanan berbasis komunitas. Masyarakat bukan sekadar objek yang harus dilindungi, tetapi menjadi bagian dari sistem pencegahan. Sebelum polisi mengetahui sebuah persoalan, sering kali tetanggalah yang lebih dahulu melihatnya. Sebelum pemerintah mengetahui sebuah titik rawan, warga sudah merasakan ketidaknyamanannya.

Karena itu, keamanan bukan hanya persoalan siapa yang menjaga, tetapi juga bagaimana sebuah lingkungan dirancang agar rasa aman tumbuh dan peluang kejahatan menyempit.

Bandung Perlu Peta Aman

Jika keamanan dimulai dari lingkungan, langkah pertama sebenarnya sederhana: kita harus tahu lingkungan mana yang membutuhkan perhatian lebih.

Bandung perlu memiliki Peta Aman Bandung. Bukan sekadar peta lokasi kriminalitas, melainkan peta kondisi keamanan lingkungan yang diperbarui secara berkala. Di dalamnya dapat dipetakan titik rawan, jam rawan, gang yang minim penerangan, lokasi yang pernah terjadi gangguan keamanan, posisi CCTV, jalur anak sekolah, ruang publik yang kurang aktif, hingga kanal pelaporan.

Yang tidak kalah penting adalah memasukkan pengetahuan warga. Warga mengetahui gang mana yang mulai sepi setelah jam tertentu, lampu mana yang mati, ruang publik mana yang tidak digunakan, serta perubahan apa yang terjadi di lingkungan mereka.

Data pemerintah dan pengetahuan warga harus bertemu. Bandung sebenarnya telah memiliki modal teknologi. Sistem Pelindung Pemkot Bandung menampilkan ratusan CCTV yang dapat dipantau secara daring. Pemkot juga telah menerbitkan kebijakan mengenai integrasi CCTV di area publik dan pelayanan publik. Tetapi kamera hanyalah alat.

CCTV tidak mengenal tetangga. Kamera tidak tahu bahwa sebuah gang menjadi sepi setiap malam. Teknologi juga tidak dapat menggantikan seorang warga yang peduli dan segera melaporkan sesuatu yang mencurigakan.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak CCTV yang dimiliki Bandung, tetapi seberapa cepat informasi dari kamera, warga, RT/RW, kelurahan, pemerintah, dan kepolisian berubah menjadi tindakan.

Jika seorang warga melaporkan lampu jalan mati di titik rawan, laporan itu tidak boleh berhenti sebagai nomor pengaduan. Harus ada pihak yang bertanggung jawab, batas waktu penyelesaian, dan mekanisme untuk mengetahui hasilnya. Pelaporan warga harus berujung pada tindakan pemerintah.

Anak Muda Jangan Hanya Ditertibkan

Ada persoalan lain yang sering luput dalam pembicaraan keamanan: anak muda.

Ketika sekelompok anak muda berkumpul pada malam hari, jangan selalu melihat mereka sebagai ancaman. Bisa jadi mereka hanya sedang mencari ruang. Kota yang serius membangun keamanan tidak hanya bertanya bagaimana membubarkan kerumunan, tetapi juga bertanya: ruang apa yang kita sediakan agar energi anak muda bergerak ke arah yang positif?

Lapangan olahraga, ruang kreatif, kegiatan komunitas, pelatihan kerja, musik, kewirausahaan, dan kegiatan sosial dapat menjadi bagian dari strategi keamanan.
Karena keamanan bukan hanya tentang mengurangi kejahatan. Keamanan juga tentang memperbanyak alasan bagi warga untuk hadir di ruang publik secara positif.
Lingkungan yang hidup memiliki kontrol sosial yang berbeda dengan lingkungan yang gelap, kosong, dan anonim.

Keluarga adalah Benteng Pertama

Namun ada satu institusi yang tidak boleh kita lupakan: keluarga. Polisi tidak mungkin berada di setiap rumah. CCTV tidak mungkin menggantikan komunikasi orang tua dengan anak. Pemerintah juga tidak mungkin mengambil alih seluruh fungsi pendidikan keluarga. Keluarga adalah benteng pertama.

Anak yang merasa diperhatikan, memiliki komunikasi dengan orang tua, mengenal lingkungannya, dan mempunyai aktivitas positif memiliki modal sosial yang berbeda dengan anak yang tumbuh tanpa pendampingan.

Karena itu, community-based safety bukan hanya tentang keamanan jalanan. Ia juga menyentuh ketahanan keluarga, pendidikan karakter, ruang anak muda, kualitas lingkungan, dan hubungan sosial antarwarga.
Mulai dari 100 Hari

Gagasan besar sering gagal bukan karena tidak baik, tetapi karena tidak pernah benar-benar dimulai. Pemerintah Kota Bandung dapat memulainya melalui 100 Hari Membangun Lingkungan Aman.

Tidak perlu langsung seluruh kota. Pilih beberapa kelurahan dengan karakter berbeda. Tiga puluh hari pertama digunakan untuk memetakan persoalan: titik rawan, jam rawan, penerangan, CCTV, ruang publik, jalur anak sekolah, dan persoalan sosial yang berkaitan dengan keamanan.

Tiga puluh hari berikutnya digunakan untuk bertindak. Perbaiki penerangan, evaluasi CCTV, hidupkan ruang publik, perjelas kanal pelaporan, hadirkan kegiatan positif untuk anak muda, dan perkuat koordinasi antara warga, pemerintah, serta aparat.

Empat puluh hari terakhir digunakan untuk mengukur hasil. Bukan sekadar menghitung jumlah kegiatan, tetapi melihat apakah warga merasa lebih aman, apakah titik rawan berkurang, apakah respons laporan lebih cepat, dan apakah aktivitas positif masyarakat meningkat.

Jika berhasil, dokumentasikan. Jika belum, perbaiki. Jika satu model terbukti bekerja, replikasi ke lingkungan lain.

Inilah cara kebijakan kota seharusnya bekerja: mulai dari persoalan nyata, menguji solusi, mengukur hasil, lalu memperluas yang berhasil.

Pada dasarnya keamanan bukan hanya tentang berapa banyak pelaku kejahatan yang berhasil ditangkap. Keamanan juga tentang berapa banyak kejahatan yang berhasil dicegah, berapa banyak anak muda yang menemukan ruang untuk tumbuh, berapa banyak lingkungan yang kembali hidup, dan berapa banyak warga yang merasa tidak sendirian.

Kita membutuhkan polisi yang kuat. Kita membutuhkan teknologi. Kita membutuhkan CCTV, penerangan, patroli, sistem pelaporan, dan penegakan hukum. Tetapi semuanya akan bekerja lebih baik ketika bertemu dengan masyarakat yang peduli terhadap lingkungannya.

Polisi tidak mungkin berada di setiap gang. Pemerintah tidak mungkin melihat setiap sudut kota. CCTV tidak mungkin menggantikan mata seorang tetangga. Dan aplikasi tidak mungkin menggantikan kepedulian manusia.

Yang membuat sebuah lingkungan aman sering kali bukan karena semua orang saling mengawasi, tetapi karena orang-orang di dalamnya saling mengenal dan saling peduli.

Mungkin sudah waktunya Bandung membangun definisi keamanan yang lebih luas. Bukan sekadar security, tetapi social safety—keadaan ketika pemerintah, aparat, keluarga, komunitas, dunia usaha, teknologi, dan warga bekerja bersama menciptakan lingkungan yang membuat kejahatan semakin sulit tumbuh.

Maka Bandung yang aman tidak harus dimulai dengan proyek besar. Mulailah dari satu lingkungan. Terangi satu gang. Hidupkan satu ruang. Libatkan satu komunitas. Dampingi anak muda. Perkuat satu keluarga. Bangun satu sistem pelaporan yang bekerja.

Lalu ukur hasilnya.
Jika berhasil, perluas.

Boleh jadi keamanan kota tidak dimulai ketika polisi datang setelah kejahatan terjadi. Keamanan dimulai jauh sebelumnya, ketika sebuah keluarga peduli, tetangga saling mengenal, lingkungan tidak dibiarkan gelap dan kosong, dan pemerintah hadir sebelum warga kehilangan rasa aman.

Bandung yang aman bukan hanya tanggung jawab mereka yang berseragam. Bandung yang aman adalah pekerjaan kita bersama.

Dan mungkin, ukuran paling sederhana dari sebuah kota yang aman bukanlah ketika tidak ada kejahatan.

Tetapi ketika seorang anak bisa pulang ke rumah, dan orang tuanya tidak lagi merasa cemas.

 

Oleh: Subchan Daragana, S.Sos., M.I.Kom.
Warga Bandung, Akademisi Universitas Bakrie, dan Social Architect