Disbudpar Perkuat Branding Bandara Internasional Husein Sastranegara, Angkat Identitas Bandung dan Karya Difabel

Berita20 Dilihat

Kota Bandung, Sekilasbandungraya.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus memperkuat branding pariwisata di Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung seiring kembali beroperasinya penerbangan komersial.

Kepala Disbudpar Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa mengatakan, penguatan branding dilakukan melalui kolaborasi antara Pemkot Bandung, pihak bandara, serta sektor swasta.

Menurutnya, Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung memiliki posisi strategis sebagai salah satu pintu masuk wisatawan ke Kota Bandung. Karena itu, identitas Kota Bandung perlu ditampilkan sejak wisatawan pertama kali tiba di bandara.

“Pemerintah Kota Bandung kolaborasi dengan bandara, ada pihak swasta juga. Kita dari kami cukup intensif untuk me-branding Kota Bandung. Tentunya ini belum tuntas, terus akan kita makin matangkan,” ujar Adi di Balai Kota Bandung, Senin 31 Agustus 2026.

Salah satu elemen yang menjadi bagian dari branding tersebut adalah penggunaan ornamen dan visual yang merepresentasikan Bandung. Di area bandara terdapat tempat duduk dan elemen berbentuk kabin yang menjadi bagian dari konsep visual tersebut.

Selain itu, terdapat layar LED berukuran panjang hingga sekitar 10 meter yang menampilkan berbagai pesan bernuansa Bandung.

Adi menyebut sejumlah ungkapan khas seperti “wilujeng landing” dan “sampurasoon” digunakan untuk memberikan pengalaman yang lebih kuat kepada penumpang sejak tiba di Bandung.

“Yang menjadi ikon itu di sana sudah ada tempat duduk kemudian ada kabin. Itu khas. Apalagi dengan LED yang panjang sampai 10 meter dan menampilkan kata-kata yang Bandung,” katanya.

Menurut Adi, konsep tersebut telah mendapat persetujuan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan dikembangkan melalui kerja sama dengan desainer.

Tak hanya ornamen visual, branding di Bandara Husein juga mengangkat karya seni yang memiliki pesan tentang inklusivitas Kota Bandung.

Salah satunya adalah lukisan karya penyandang disabilitas bernama Muhammad Syafiq atau yang akrab disapa Oki. Karya tersebut sebelumnya ditampilkan dalam rangkaian Asia Afrika Festival.

Adi menyebutkan, karya tersebut memiliki nilai yang kuat untuk ditampilkan di bandara karena tidak hanya berkaitan dengan seni, tetapi juga membawa pesan inklusivitas.

Karya tersebut dinilai semakin memperkuat pesan bahwa Bandung merupakan kota yang terbuka dan inklusif, sekaligus memberikan ruang bagi siapa pun untuk berkontribusi melalui kreativitas.

“Dibuatnya juga oleh difabel. Kalau buat Pak Wali, Bandung itu kota inklusif, kota yang sangat terbuka. Siapa pun bisa memberikan kontribusi buat Kota Bandung,” kata Adi.

Terkait dibukanya kembali penerbangan Garuda Indonesia di Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung, Disbudpar masih melakukan pemantauan karena operasional penerbangan baru berjalan dalam waktu relatif singkat.

Penerbangan perdana Garuda Indonesia kembali melayani Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung pada 14 Agustus 2026. Karena baru berjalan sekitar setengah bulan, Adi mengaku masih akan melakukan evaluasi bersama pengelola bandara.

“Kita mungkin akan evaluasi ini di bulan Agustus seperti apa. Penerbangan juga karena baru bulan pertama, bahkan setengah bulan. Kita nanti koordinasi juga dengan pihak bandara,” katanya.

Evaluasi tersebut mencakup stabilitas frekuensi penerbangan hingga jumlah penumpang yang menggunakan Bandara.

Menurut Adi, dampak paling potensial dari kembali aktifnya penerbangan adalah peningkatan jumlah wisatawan mancanegara.

“Kalau saya melihat yang sangat akan berubah itu adalah jumlah kunjungan wisman, wisatawan mancanegara. Mungkin ini akan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya,” ujarnya.