Tembok Mural Lodaya, Ikon Baru Bandung Selatan

Berita1096 Dilihat

Lebih lanjut, Farhan menyebut pentingnya membedakan antara mural sebagai karya seni dengan vandalisme. Ia berharap warga sekitar ikut menjaga mural ini dari kemungkinan perusakan.

“Kalau mural itu dibuat untuk mempercantik dan menjadi identitas tempat. Sedangkan vandalisme justru merusak keindahan kota,” katanya.

Ia pun meminta kepada aparat kelurahan dan RW setempat untuk melakukan patroli rutin. Ia percaya, kesadaran warga adalah kunci utama menjaga ruang publik.

“Kita tidak butuh pagar besi atau kawat berduri. Yang menjaga mural ini adalah hati kita sendiri,” tegasnya.

Pembangunan mural Lodaya ini menjadi bagian dari program kerja 100 hari Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung.

Sementara itu, Kepala Dinas SDA, Bina Marga, dan Binamarga (DSDABM), Didi Ruswandi menjelaskan, mural ini melengkapi pembangunan trotoar sepanjang 792 meter di Jalan Lodaya yang selesai pada 2024 lalu.

Didi menyebutkan bahwa konsep pembangunan ini menggunakan prinsip “urban acupuncture”, yaitu memperbaiki titik-titik tertentu di kota untuk menghasilkan dampak positif yang meluas.

“Seperti akupuntur pada tubuh manusia, kita sentuh titik-titik penting untuk membuat kota lebih sehat dan nyaman,” jelasnya.