Farhan: Kepemimpinan Kota Bandung Representasi dari Sebuah Institusi

Pemerintahan1481 Dilihat

“Kami ingin membangun komunikasi publik yang berfokus pada pelayanan institusi, bukan pencitraan pribadi atau keluarga pejabat,” tegasnya.

Farhan juga menyinggung tantangan kepercayaan publik terhadap pemimpin yang terlalu menonjol secara personal. Kota Bandung tidak membutuhkan figur selebritas, tetapi kepemimpinan yang kuat, kolaboratif, dan profesional.

“Bandung adalah kota kolaborasi. Tidak ada satu Wali Kota sehebat apapun yang bisa menyelesaikan semua persoalan sendirian,” ujarnya.

Ia mencontohkan penanganan kemacetan, penertiban PKL, dan pengelolaan sampah yang semuanya harus melibatkan berbagai elemen dan dinas.

Baca Juga  Sukseskan Asia Afrika Festival, Pemkot Bandung Lakukan Rekayasa Lalu Lintas

Farhan juga menginginkan Bandung kembali menjadi kota yang nyaman dan aman bagi warganya maupun wisatawan.

“Orang harus datang ke Bandung karena udaranya sejuk, jalannya nyaman, makanannya bersih, dan tidak ada pungli. Kota ini harus memberikan rasa aman dan ketenangan,” ucapnya.

Dalam masa kepemimpinannya, Farhan menargetkan enam prioritas utama: perbaikan jalan, penerangan umum, pengelolaan sampah, pengurangan banjir, pembenahan transportasi publik, dan revitalisasi kawasan perdagangan strategis seperti Alun-alun, Asia Afrika, dan pasar tradisional.

“Kota Bandung harus punya sistem yang berjalan baik, bukan hanya tergantung pada siapa yang memimpin. Itulah makna kepemimpinan berbasis institusi,” tuturnya.

Baca Juga  Bukan Sekadar Denda, Wali Kota Pastikan Pohon di Jalan Moch Toha Ditanam Kembali