DSDABM, Sektor 22 Satgas Citarum Harum dan Unsur Wilayah Perbaiki Kirmir Ambruk Di Gumuruh

Berita512 Dilihat

Bandung, Sekilasbandungraya.com – Amblasnya tanah yang mengakibatkan kirmir serta bangunan bagian belakang (dapur) milik Enang Suhendar warga RT. 01/11 Kelurahan Gumuruh Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Roboh. Sabtu (07/05/22).

Kejadian amblasnya tanah terjadi pada Jum’at 06 Mei 2022 sekira pukul. 18.30 WIB, dan merobohkan kurang lebih sepanjang 25 meter kirmir di bantaran Sungai Cikapundung Kolot.

Satgas Citarum Harum Sekotr 22 Sub 05 bersama DSDABM Kota Bandung dan unsur kewilayahan dengan sigap turun kelokasi guna melakukan perbaikan sementara.

Secara kolaborasi satgas Citarum Harum Sektor 22 beserta dinas terkait dan unsur kewilayahan berikan aksi tanggap darurat atisipasi amblas susulan dan menambah panjang retakan kirmir menggunakan tumpukan karung dengan isi brangkal agar air sungai tidak secara langsung menghantam area amblasnya tanah tersebut.

Dalam giat tersebut hadir Camat Batununggal Drs. Tarya, M.AP., Lurah Gumuruh Nurma Safarini, MM, DSDABM Kota Bandung, Dansub 05 Satgas Citarum Harum Peltu Seno beserta anggota dan unsur kewilayahan.

Saat di temui di lokasi, Camat Batununggal Drs. Tarya, M.AP. menyampaikan, kejadian robohnya kirmir Sungai Cikapundung Kolot ini mungkin karena melihat kirmir yang usianya sudah tua, dan memang perlu adanya perbaikan-perbaikan di sepanjang Sungai cikapundung Kolot ini.

“Hari ini di lokasi sedang dilaksanakan perbaikan penanganan sementara oleh Dinas PU Kota Bandung dan dari satgas Citarum Harum Sektor 22 beserta warga masyarakat setempat”. Katanya.

Ia mengucapkan terimakasih atas partisipasinya, “Mudah-mudahan kedepannya perbaikan bisa langsung di perbaiki oleh dinas terkait”. Ucapnya.

Di tempat yang sama Lurah Gumuruh Nurma Safarini, MM menambahkan, Petugas yang berkolaborasi untuk perbaikan sementara kurang lebih ada sekitar 40 orang.

“Untuk sementara perhatian kami kepada warga yang rumahnya terdampak, baru hanya sebatas tenaga, dan sambil di kalkulasi juga apakah ada kebutuhan lainnya seperti kebutuhan sehari-harinya”. Terang Nurma.

Dikatakannya Nurma, perkiraan kerugian dari amblasnya tanah tersebut sekitaran Rp 30-40 juta, karena pada sebelumnya, rumah warga tersebut sedang progres renovasi.

“Karena pada sebelumnya rumah tersebut terkena oleh penertiban penataan Sungai Cikapundung Kolot, dan di saat belum selesai tanah yang berada tepat di belakang rumahnya amblas dan mengakibatkan kerusakan di bagian belakang rumahnya (dapur)”. Katanya.

Untuk itu, Ia menghimbau kepada warga agar tidak membangun terlalu dekat dengan bantaran sungai, karena akan berakibat seperti yang terjadi saat ini.

“Mudah-mudahan bagi warga yang masih memiliki lahan yang bisa dipakai untuk penghijauan di sarankan untuk penghijauan saja jangan dipakai untuk bangunan”. Tutup Nurma.*